Sibuk vs Produktif


Alih-alih disebut sibuk, gw memilih untuk menyebut diri gw sedang padat untuk menghindari bertemu dengan orang lain. Sangkin antinya gw menggunakan kata sibuk, sampai-sampai teman gw ada yang menghibur dengan berkat, tidak masalah jika kita mengakui diri kita sedang sibuk, karena orang akan memaklumi hal tersebut.

Mungkin orang lain akan memaklumi, tapi tidak diri gw. Menghindari kata sibuk bukan bertujuan agar menyenangkan bagi orang lain, namun mendisiplinkan diri bahwa gw selalu punya waktu, hanya saja seperti sumber daya lainnya yang terbatas, waktu perlu untuk diatur. Gw bisa saja sedang 'nganggur' namun tidak ada satu pun yang gw selesaikan. Begitu juga sebaliknya, gw bisa saja sedang ‘sibuk’, namun masih menyelesaikan berbagai hal lain.

Jadi mari kita mulai melihat perbedaan antara sibuk dan produktir.

Walaupun terlihat sama-sama sedang mengerjakan sesuatu, namun ternyata antara sibuk dengan produktif memiliki perbedaan, dan Anda dapat mengenalinya dari ciri-ciri berikut:

Orang Sibuk selalu memulai segala sesuatu

Ini yang sering kali menjadi jebakan. Anda mungkin berpikir bahwa untuk menjadi produktif Anda perlu memulai sesuatu. Ambil contoh, ketika perut gw bertambah buncit, gw berpikr perlu untuk melakukan latihan dan pergi ke gym. Itu tidak salah, namun sebelum gw pergi ke gym untuk berlatih seharusnya terlebih dahulu gw berhenti mengkonsumsi karbo atau makanan junk food.

Ketika Anda berusaha produktif, sebelum mulai membuat jadwal, terlebih dahulu Anda perlu untuk berhenti melakukan hal yang tidak produktif. Orag yang produktif bukan orang yang memulai sesuatu, namun yang berhenti melakukan sesuatu yang kontra-produktif. Berhenti kebiasaan-kebiasaan yang tidak membangun. Anda perlu berhenti sebelum melakukan sesuatu. berhenti untuk berpikir, bertanya, baru berjalan dengan arah yang berbeda.

Orang sibuk memiliki banyak gol

Baik jika Anda memiliki banyak gol, namun Anda harus ingat bahwa Anda juga memiliki wkatu yang terbatas. Biasanya orang yang sibuk memiliki berbagai rencana dan target untuk dikerjakan bersamaan, dan biasanya berakhir dengan tanpa menyelesaikan satu hal pun. Kalaupun selesai biasanya dengan terburu-buru dan hasil yang tidak memuaskan.

Dulu gw termasuk yang sering ‘mengumpulkan’ to-do list selama satu hari, dan merasa sangat produktif jika memiliki to-do list yang panjang, sampai akhirnya menyadari lebih banyak yang gw tulis dari pada yang dapat diselesaikan.

Akhirnya gw memutuskan menghapus to-do list yang panjang itu, dan hanya menuliskan tiga prioritas terpenting yang harus diselesaikan hari itu. Orang yang produktif bukan orang yang dapat menyelesaikan banyak pekerjaan, namun yang memiliki prioritas atas waktu yang digunakan.

Orang sibuk selalu berkata YA

Anda pernah nonton film YES MAN?
Film komedi ini sebenarnya bagus, mengajak penonton agar lebih optimis dan memiliki respon positif terhadap berbagai hal, sehingga universe akan memberikan Anda kesempatan demi kesempatan. Masalahnya adalah ketika Anda selalu berkata YA terhadap setiap kesempatan dan peluang, maka sama saja Anda tidak memiliki prioritas.

Selalu menjawab YA berarti Anda tidak memiliki agenda. Apa lagi jika Anda menjawab YA karena alasan tidak enak atau takut menyinggung, itu sama seperti Anda membiarkan diri Anda di bawah prioritas orang lain.

Orang sibuk selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu

Bagus dong?
Sayangnya tidak. Jika Anda berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, biasanya Anda baru akan mengerjakan pekerjaan tersebut menjelang waktu habis.
Sedangkan orang produktif akan berusaha menyelesaikan pekerjaan di waktu yang tepat. Kapan? Sebelum deadline. Mereka selalu berusaha menset deadline yang tidak realistis agar mereka memiliki waktu lebih banyak untuk me-review dan memikirkan cara-cara terbaik untuk lebih efisien dan efektif.

Jadi bagaimana, lebih memilih sibuk yang produktif atau produktif yang sibuk?