Natal Dimulai dengan Sebuah Tragedi...


Natal dimulai dengan sebuah tragedi, yaitu seorang perawan mengandung tanpa suami. (Kisahnya dapat Anda baca di Lukas 1: 26–56)

Saya tidak bisa bayangkan bagaimana mengandung sebelum menikah bisa dilihat sebagai sebuah sukacita. Saya penasaran bagaimana seorang gadis yang masih sangat muda (mungkin berumur 20an tahun saat itu), mengalami dan menangani hal ini? She’s just a girl

Pengalaman yang Maria alami ketika berjumpa dengan malaikat Tuhan pun hanya ia seorang yang melihat. Apakah Anda berani bilang ke orang lain bahwa malaikat datang dan berkata janin yang dikandung adalah Anak Allah Yang Mahatinggi?
Saya jamin jika Maria lakukan hal tersebut, ia akan dirajam hingga mati karena menghujat Allah.

Belum lagi Maria perlu 9 bulan untuk membuktikan semua ucapan malaikat Tuhan. Dan 9 bulan bukan waktu yang sebentar.

Menarik untuk diketauhi bahwa yang Maria lakukan kemudian adalah mencari teman dan sahabat yang tepat. Ia berkunjung ke sepupunya Elisabet (ayat 39 & 40); orang yang memiliki pengalaman dan mimpi (vision) yang hampir sama dengannya. Mereka tinggal bersama selama 3 bulan (ayat 56). Saya yakin yang mereka lakukan ketika tinggal bersama adalah saling mendukung, saling menyemangati, saling memberikan dorongan. Pada akhirnya 'mimpi' tersebut lahir. Persahabatan yang mereka bina tidak saja membawa keuntungan bagi mereka berdua, tapi bagi banyak orang, bagi umat manusia.

Kita semua saat ini sedang mengandung mimpi, cita-cita, atau harapan. Siapa yang Anda pilih sebagai sahabat dan komunitas Anda? Apakah mereka orang-orang yang memiliki nilai yang sama dengan Anda atau dream killer? Apakah mereka bisa melihat mimpi Anda dan bukan mencela bahkan membunuh mimpi Anda? Apakah persahabatan dan komunitas yang Anda bangun bermanfaat bagi Anda, sahabat Anda dan orang lain? Karena jika Anda salah memilih sahabat, komunitas, Anda salah bergaul dan menghabiskan waktu pada orang-orang atau komunitas yang tidak semestinya, hidup Anda bisa mengalami 'keguguran'.

the righteous choose their friends carefully…

(Proverbs 12:26)

Anda harus selektif dalam membangun persahabatan dan komunitas. Saya setuju untuk kita berteman dengan semua orang tanpa melihat golongan dan latar belakang, tapi bukan berarti Anda memberikan akses yang sama kepada semua orang. Bayangkan apa yang terjadi jika Anda memberikan kunci rumah Anda kepada orang yang baru Anda kenal. Bukan saja Anda meresikokan rumah Anda, namun juga orang-orang yang Anda kasihi: istri Anda, anak Anda, keluarga Anda, tetangga Anda.

Sama halnya dengan akses pertemanan Anda. Anda harus selektif dengan siapa Anda luangkan waktu Anda. We are all a reflection of who we spend time with. Luangkan waktu dengan orang-orang negatif, maka Anda akan menjadi negatif. Luangkan waktu dengan orang-orang yang positif, maka Anda akan menjadi positif.

Dengan cara yang sama pula, jika Anda menghabiskan waktu di sekitar orang-orang atau komunitas yang memiliki nilai yang sama dengan Anda, atau memiliki tujuan yang menginspirasi Anda untuk bekerja lebih keras terhadap tujuan atau mimpi Anda sendiri, Anda akan bergerak dan tumbuh 10x lebih cepat.

Ini tidak terjadi satu arah, namun juga dua arah. Jika saat ini Anda bertanya mengapa banyak orang-orang yang negatif mendekat kepada Anda, bisa jadi karena sikap dan respon Anda juga negatif. Begitulah cara Law of Attraction bekerja. Jadi sebelum Anda mengeluh mengenai orang lain, coba untuk mengubah diri sendiri. Sebelum Anda mengubah hidup Anda, mulai lebih dulu dengan mengubah pergaulan Anda.

the center of the story

Selama kita masih hidup, kita akan terus menghadapi masalah. Tidak jarang masalah-masalah tersebut besar dan mendatangkan krisis dalam hidup kita. Respon kita, persahabatan kita, komunitas kita, menentukan bagaimana kita melewati krisis tersebut. Pada akhirnya kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita mendatangkan kebaikan bagi kita, bahkan sebuah krisis sekalipun, karena warisan dari krisis hari ini adalah Sukacita kita hari esok. Seperti Natal yang diawali dengan sebuah krisis dan diakhiri dengan Kristus, sukacita bagi kita semua.

Pada akhirnya hidup kita adalah sebuah testimony, dan bukan untuk diri kita sendiri.
Our lives should be a testimony for Jesus Christ. Itu inti dari Natal, inti dari persahabatan antara Maria dan Elizabet yang kita bicarakan hari ini, the Center of the Story.