All Access: Fix Your Eyes On Jesus


16 Maret 2018, adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya menikah. Rasanya seperti mimpi, karena keajaiban yang datang melalui pernikahan tersebut. Persiapan yang hanya kurang dari 3 bulan, dengan tabungan hampir nol di rekening, namun dengan pesta pernikahan impian kami.

14 Maret 2019 adalah hari yang paling membahagiakan berikutnya. Untuk pertama kalinya saya menjadi seorang ayah. Rasanya seperti sebuah mimpi yang jauh melampaui semua imajinasi saya sebelumnya. Keajaiban yang datang melalui seorang bayi yang sehat, kuat, dan jauh lebih tampan dari saya (syukurlah!).

Pernikahan, anak, bahkan pekerjaan (tahun lalu revenue perusahaan bertumbuh 260%!), akses demi akses yang Tuhan bukakan agar saya bisa masuk dan menerima kemurahan demi kemurahan Tuhan. God is good.

Akses ini sangat intens. Kita bisa sangat mengagungkan pasangan kita dan pernikahan itu sendiri, atau kita bisa sangat menyayangi anak kita, atau sangat bangga dengan pekerjaan yang kita lakukan sekarang sehingga tanpa disadari ruang-ruang ini menjadi center dari kehidupan kita.

Setelah Jonah lahir, hidup kami seketika berubah. Tanpa disadari kehidupan kami berada di sekeliling Jonah; Jonah nangis kami bangun dengan sigap memberikan susu, Jonah gak pup kami berdua googling berbagai artikel, bangun subuh buat nyuci baju Jonah, steril botol Jonah, tidurin Jonah, Jonah, Jonah, dan Jonah.

Salah?

Belum. Balik lagi saya sebutkan diatas, sukacita itu datang melalui hadirnya Jonah, sehingga apa yang kami lakukan adalah bagian dari sukacita tersebut. Namun ketika pusat dari kehidupan kita berada pada akses yang Tuhan berikan, pelan-pelan akses tersebut menarik kita ke bawah. Jonah sakit, kita saling menyalahkan diri sendiri. Jonah tidak berada pada kondisi ideal kita merasa gagal menjadi orang tua, dst, dst.

Sama halnya dengan akses-akses yang lain, seperti misalnya pekerjaan. Jika kita begitu intens dengan pekerjaan tersebut, pekerjaan yang awalnya menjadi berkat dan ruang produktif kita, pelan-pelan menarik kita jatuh.

Ketika kita tergoda untuk intens terhadap 'ruang yang diakses' dibanding dengan Pemberi akses tersebut, sukacita dengan cepat akan berubah menjadi dukacita, pengharapan akan berubah menjadi kekhawatiran, akhirnya berkat berubah menjadi kutuk.

Siapa yang kita tempatkan sebagai center dari kehidupan kita? Siapa yang dengan intens kita tempatkan di tengah-tengah ruang akses demi akses yang kita miliki?

Jika kita menempatkan Kristus Yesus yang adalah sumber sukacita kita, yang memberikan sukacita melalui akses demi akses yang kita terima -- bahkan akses terbesar yang Ia berikan adalah hubungan kita dipulihkan dengan Allah, maka bahkan kutuk sekalipun akan menjadi berkat bagi kita. Set your eyes on Jesus.