Memimpin Dengan Pengaruh


Ketika berbicara mengenai leadership, Kita perlu membedakan dulu antara management dengan kepemimpinan. Kalau kita mendengar mengenai gaya kepemimpinan, tipe kepemimpinan, atau bagaimana sebuah kepemimpinan bekerja dalam situasi atau organisasi tertentu, itu bukanlah leadership, itu management. Kepemimpinan pada dasarnya merupakan cara kita berpikir, cara kita bertindak, dan cara kita berkomunikasi. Kalau kata Simon sinek.

Elemen terpenting dan terutama dari seorang leader adalah memiliki followers. Anda tidak dapat bilang bahwa, "siapapun bisa menjadi seorang pemimpin, setidaknya memimpin diri sendiri".
Kecuali Anda memiliki kepribadian bipolar, maka memimpin diri sendiri itu bukan memimpin, melainkan menguasai diri -- yaitu kemampuan untuk dapat menahan diri, mendisiplinkan diri, membawa diri, dan memotivasi diri.

Hanya follower yang membuat seseorang menjadi seorang leader. Ini tidak ada hubungannya dengan peringkat, intelligence, jabatan, dan bukan juga soal senioritas. Jika seseorang bersedia mengikuti Anda, selamat! Anda adalah seorang leader. Sesederhana itu.

Lalu apa itu follower?

Pengikut adalah seseorang yang secara sukarela (volunteers) pergi ke mana Anda akan pergi. Sukarela di sini adalah seseorang yang mengangkat tangan dengan insiatif mereka sendiri dan memilih mengikuti Anda. Anda mungkin dapat membuat orang lain melakukan segala macam hal termasuk menyuruh mereka mengikuti Anda dengan menggunakan otoritas Anda, sayangnya itu tidak menjadikan Anda seorang pemimpin. Mungkin bos, mungkin atasan (karena Anda membayar mereka), namun bukan pemimpin.

Pertanyaannya adalah mengapa seseorang harus mengikuti Anda?

Hanya ada dua cara untuk meng-influence perilaku manusia (dalam hal ini mengikuti Anda), yaitu dengan memanipulasi atau menginspirasi mereka.

Ini seperti transaksional; ada yang menjual dan ada yang membeli. Konsep manipulasi adalah menjual dengan memberikan iming-iming diskon atau promo. Kita akan menurunkan nilai sampai seseorang bersedia untuk membeli (mengikuti Anda).

Salah-satu contoh manipulasi yang sederhana: menciptakan rasa takut (fear), termasuk di dalamnya iming-iming uang, bonus, atau posisi. Atau menyerang/memojokan dengan verbal. Masih banyak lagi contoh yang lain. Masalahnya tidak satu pun dari manipulasi ini melahirkan loyalitas, tidak satu pun membangun kepercayaan. Dan seturut berjalannya waktu akan meningkatkan stress. Ini tidak saja dari sisi follower, namun juga Anda sebagai pemimpin. Pemimpin yang mengembangkan kepemimpinan dengan cara memanipulasi akan mengalami tekanan dan stress; memikirkan bagaimana seseorang akan mengikuti dia, dimana mencari pengikut, cara apa lagi yang akan digunakan agar seseorang mengikuti dia dst.

Kalau begitu bagaimana memperoleh follower dengan cara menginspirasi?

Orang tidak mengikuti apa yang kita lakukan (action), melainkan mengapa (why) kita melakukannya.

Orang akan mengikuti Anda jika Anda memiliki why dan mampu mengartikulasikan dalam kata-kata dan tindakan yang konkrit (clarity of why).
Ada tiga hal yang harus kita miliki di sini:

1. know WHY you do what you do.

Jika diri kita sendiri tidak tahu alasan konkret mengapa kita melakukan hal tersebut, maka akan susah untuk orang lain mengikuti kita, dan ini tidak dapat sembunyikan. Orang akan dengan segera melihat dan menyadari melalui tindakan kita apakah kita memang benar-benar mengetahui alasannya atau sekedar alasan yang dicari-cari.

2. Have discipline of HOW.

Anda harus membuat diri Anda sendiri dan follower Anda bertanggung jawab atas prinsip dan nilai-nilai yang Anda miliki. Kalau kita sendiri sebagai leader tidak dapat bertanggung jawab atas prinsip, nilai dan langkah yang kita ambil, akan susah mendapatkan follower yang baik.

3. Have consistency of WHAT.

Sebagai leader kita harus memiliki konsistensi atas apa yang kita katakan dan semua yang kita lakukan harus membuktikan apa yang kita yakini. Ini konsep di balik authenticity. Salah-satu indikasi seorang leader inkonsisten terhadap nilai dan apa yang dilakukan adalah: motif mereka diragukan. Pernah kan kita alami ketika tindakan yang kita ambil berangkat dari motif yang baik, namun disalah-artikan atau diragukan. Kemungkinan besar karena mereka melihat inkonsisten terhadap perkataan, tindakan dan prinsip yang kita yakini.

Tiga hal ini membangun rasa percaya antara pemimpin dengan pengikut. Kepercayaan adalah perasaan, pengalaman manusia.

Simply doing everything you say you're going to do does not mean people will trust you. It just means you're reliable. And we all have friends who are total screw ups, and yet we still trust them. - Simon Sineck

Perasaan yang lahir dari seperangkat nilai dan keyakinan yang kita sepakati bersama. Dan kelangsungan hidup kita bergantung pada kemampuan kita untuk menemukan orang-orang ini, sehingga kita dapat membentuk kepercayaan. Saat Anda mempercayai mereka dan mereka mempercayai Anda, kita akan lebih rela, kita lebih cenderung mengambil risiko, mengeksplorasi, bereksperimen, yang tentunya membutuhkan kegagalan. Semua dengan keyakinan jika kita membuat kesalahan, maka seseorang dari dalam kelompok kita akan datang membantu kita.

Kepercayaan bukan tuntutan salah-satu pihak saja, namun menjadi tanggung jawab bersama untuk bersedia menjadi orang yang dapat dipercaya. Jika hanya dari leader saja menuntut percaya dari followernya tanpa menjadi orang yang dapat dipercaya, itu adalah tuntutan management (karena bos adalah atasan, karena bos menggaji), bukan leadership.

Namun ini sebuah komunikasi yang sangat layak untuk dibangun, karena ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang percaya dengan apa yang kita yakini dan jalankan, maka sesuatu yang luar biasa terjadi.