T.A.A.T

Mengajari anak mengenai ketaatan.

Hari ini tema di sekolah Jonah adalah mengenai ketaatan: bagaimana menolong anak agar dapat taat dengan segera kepada orang tua, namun di satu sisi kita sebagai orang tua tidak menggunakan otoritas ini dengan semena-mena (otoriter).

Tapi yang sering kita lupa, khususnya gw sebagai orang tua, sebenarnya tuntutan ketaatan anak kepada orang tua atas dasar apa sih? Apakah dasar kehendak mutlak sebagai orang tua, atau dasar kasih Kristus yang dipercayakan kepada kita sebagai orang tua?

Karena berbeda dengan ketaatan kita kepada Tuhan - karena kita tahu Tuhan tidak pernah berbuat kesalahan, sedangkan gw sebagai orang tua, sering kali tuntutan agar anak taat sebenarnya demi kepentingan gw.

Misal, gw ingin anak segera taat ketika mereka makan. gw ingin anak bisa makan dengan baik, banyak, dan cepat (harapan semua orang tua khususnya ibuk-ibuk). Ketika mereka tidak melakukan seperti yang gw inginkan gw melabel anak dengan tidak taat. Padahal mungkin sebenarnya gw yang tidak sabar menunggu anak berproses dengan waktu makannya.

Jadi bagaimana kita menegakan ketaatan pada anak? Atau setidaknya bagaimana kita memandang ketaatan pada anak?

Jawab Yesus: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. - Yohanes 14:23

Ketaatan itu dimulai dengan kasih. Bukan bukti kasih adalah ketaatan, namun karena kita mengasihi sehingga kita taat. Karena kita mengasihi Kristus sehingga kita mentaatai firmanNya. Kita percaya dengan apa yang Dia katakan. Taat itu seperti dashboard speedometer pada kendaraan dan kecepatan mobilnya ada kasih. Kalau mobil kita melambat, dan speed pada speedometer turun dari 80 ke 60 KPH, kan bukan speedometernya yang kita kotak-katik agar mobilnya bisa cepat kembali, tapi pedal gasnya yang kita injak lebih dalam. Speedometer hanya menunjukan seberapa cepat mobil Anda. Sama halnya dengan ketaatan. Ketaatan hanya menunjukan seberapa kita mengasihi Tuhan.

Demikian juga anak kita terhadap kita. Gw ingin anak mentaati gw bukan karena dia takut dengan ayahnya, atau takut karena di-spank. Bukan. Namun karena hubungan yang kami bangun bersama; kasih sayang yang melahirkan trust sehingga mereka dengan mudah untuk taat.

Ketika kita mendasarkan kasih dalam membangun ketaatan anak kita, kita akan mengedepankan empati terhadap anak kita - perasaan bahwa kita dengan sadar tahu bahwa taat itu tidak mudah.

Sama seperti Yesus.
Kalau dipikir-pikir, salah-satu alasan mengapa Tuhan harus mengambil wujud Manusia, karena sebagai Imam Besar kita (yang mewakili kita dihadapan Allah), dia turut juga merasakan penderitaaan dan kelemahan kita (Ibrani 4:15-16 TB: Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa...), sehingga KasihNya menjadi nyata dalam bentuk pengorbananNya di kayu salib.

Jangankan anak kita yang memiliki pemahaman yang terbatas, kita saja sebagai orang dewasa sering kali sulit untuk taat terhadap Firman Tuhan (FT), apa lagi anak kita. Kita tahu apa yang benar dan apa yang salah, kita tahu semua yang ada dalam FT itu benar adanya, namun sering kita dapati diri kita melakukan sebaliknya.

Ketika kemarin Jonah di kelas, ia diminta untuk tidak melempar barang, namun dia lempar. Diminta untuk menutup pintu atau tidak berlari keluar, dia lakukan hal sebaliknya. Mungkin kalau ceritanya sampai di sini, Jonah terdengar sangat stubborn. Namun situasi saat itu dia penuh dengan luapan emosi dan adrenalin. Ketemu dengan teman-temannya yang semua lakukan hal kurang lebih sama. Semua anak menjadi tidak tahu batasan mana yang sedang main-main atau bercanda dan mana yang sudah tidak lucu lagi.

Ketika saya one on one dengan Jonah setelahnya, menanyakan mengapa dia lempar-lempar barang atau menendang pintu? Dia tahu bahwa hal-hal tersebut salah, namun ketika ditanya kenapa dia tetap lakukan itu. Dia pun menanyakan hal yg sama, "kenapa papa?". Ya dia juga bingung.

Ketika Jonah hanya 'berurusan' dengan saya (ayahnya) atau dengan mamanya, akan jauh lebih mudah untuk dia taat. Namun ketika dia berada dalam lingkungan luar, akan menjadi tantangan yang berat untuk dia.

Sama halnya dengan kita bukan?

Ketika kita hanya berurusan dengan Tuhan dalam ruang doa kita, atau waktu penyembahan kita misalnya, menjadi taat dan mendengar Firman Tuhan sangat masuk akal untuk diikuti, namun begitu kita kembali ke realita kita, pekerjaan kita, pergaulan kita, keluarga kita, mendadak Firman Tuhan terasa berat untuk kita lakukan.
Jadi ketika gw melihat anak gw sebenarnya itu gambaran nyata dari diri gw, hidup gw dihadapan Allah.

Jadi apakah kita tidak perlu menekankan ketaatan kepada anak-anak kita?

Jelas perlu. Namun perspektif kita yang perlu diluruskan dan motifnya perlu kita uji setiap saat. Ketika kita ingin meminta anak kita melakukan sesuatu untuk kita, ingin mereka segera mentaati kita, apakah itu untuk kepentingan orang tua, atau agar anak bisa merasakan/menemukan kasih Allah melalui ketaatan tersebut. Dan bukan rasa takut.

Tapi bukankah alkibat berkata, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7).

Benar. Namun jenis takut yang seperti apa yang dimaksud dalam alkitab?

Saya mendapat pemahaman ini secara tidak sengaja ketika beberapa kali anak saya sesaat 'menghilang' di mall.

Saya sedang mengajarkan anak saya untuk bagaimana merespon ketika dia kehilangan orang tua ketika berjalan di mall atau di tempat-tempat publik. Ketika briefing aja dia sudah nangis takut. Apa lagi ketika roleplay.

Namun di sini saya mengerti bagaimana takutnya dia ketika dia tidak melihat orang tuanya di tengah keramaian.

Rasa takut ini yang dimaksud oleh alkitab, yaitu rasa takut atau cemas akan absennya kehadiran Allah dalam hidup kita. Berbeda dengan kedewasaan sekuler, kedewasan rohani justru terjadi ketika kita semakin dependen terhadap Tuhan. Sebaliknya, kedewasaan sekuler adalah ketika kita mampu seutuhnya independent lepas dari orang tua kita. Salah-satu manifestasi dari dependent terhadap Tuhan adalah rasa takut ketika terpisah dari Tuhan, walaupun pada ayat lain kita diyakinkan bahwa tidak ada yang satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan (Roma 8:31-39).

Jadi ingat kembali ketika kita ingin mengajarkan ketaatan kepada anak kita. Sudahkan kita menjadi contoh bagi mereka dalam ketaatan kita terhadap Allah, atau itu hanya legitimasi agar anak menuruti kemauan kita.