Identitas Pada Secangkir Kopi


Para peminum kopi kalcer biasanya memilki gelas khusus untuk menikmati kopi mereka. Gelas-gelas ini tidak bisa dibilang murah. Ada yang hanya 50 ribu hingga yang berharga 500 ribu juga ada, bahkan bisa lebih dari itu.

Namun isinya tetap sama, kopi. Gak mungkin kopi murah dihidangkan pada gelas 500 ribu rasanya jadi naik kelas, demikian juga sebaliknya. Pada akhirnya gelas tetaplah gelas, dan peminumnya menikmati kopinya.

Akhir tahun ini saya datang di sebuah acara conference marketing tahunan. Saya ingat sewaktu dulu pertama kali saya datang pada conference ini sebagai pembicara. Saya masuk dari pintu khusus, disambut dengan protokol dan didampingi seorang LO. Duduk di ruang khusus dengan snack dan coffee sambil menunggu giliran untuk menyampaikan keynotes.

Sekarang saya datang ke conference yang sama dengan membeli tiket, boro-boro ada LO, saya ikut antrian yang panjang dengan peserta lain tanpa ada yang mengenali. Saat ini saya sudah tidak bekerja di perusahaan yang dulu dengan posisi penting.

Mungkin sesaat terbersit, "Dulu aja ketika gw masih bekerja di perusahaan itu disambut dengan istimewa, eh giliran sekarang disapa pun tidak".

Saat dulu saya diperlakukan istimewa bukan karena siapa diri saya, namun karena posisi saya, dan seharusnya saya tidak perlu baper, karena previlage itu melekat pada jabatan/posisi saya, bukan pada diri saya.
Mungkin saja kamu adalah founder dan CEO dari sebuah unicorn, kamu diundang jadi pembicara di mana-mana. Namun akan ada waktunya jabatan CEO itu berakhir, (founder mungkin tidak namun) perusahaan kamu bukan lagi unicorn atau sudah tidak populer lagi.

Pertanyaannya adalah siapa diri kamu saat itu? Identitas diri kita sematkan di mana? Di jabatan kah? Pekerjaan kah? Atau uang kita kah?

Itu semua bukan hal-hal yang akan bertahan selamanya, dan seharusnya kita sudah menyadarinya dari awal, ketika kita menerima semua amanah itu. Posisi, jabatan, bahkan uang, tidak ada yang akan bertahan selamanya. Jangan sampai kita melekatkan identitas diri kita pada hal-hal yang sementara sehingga ketika waktunya datang kita tidak kehilangan diri kita.

Kembali pada secangkir kopi. Kopi yang special tidak akan kehilangan identitas kopinya ketika berpindah cangkir ke cangkir tanah liat. Nikmatnya mungkin sedikit berbeda dibandingkan wadah sensory glass, namun rasanya tetap kopi.

Pada akhirnya Anda ingin dikenal sebagai siapa? Ada identitas sementara ada identitas yang kekal. Orang tua, anak-anak adalah salah-satu contoh identitas yang kekal.
Bahkan kematian pun tidak akan menghapus fakta bahwa saya ayah dari Jonah.
Bijak memilih indentitas yang Anda bangun.

Seorang profesi atau seorang ayah?
Seorang bos atau kawan?
Seorang bos atau pembawa damai?