Gowes 100km Biar Gak Engap

JPEG-image
Ada berbagai alasan orang mulai untuk bersepeda. Gw baru mulai 2-3 bulan terakhir dan alasannya karena gw mulai ‘engap’ ketika main sama anak (heart rate gw bisa 120an padahal cuma main di kamar doang), dan mulai merasa cape ketika ketemu dan handle banyak orang (secara virtual). Belakangan gw baru tahu ini disebabkan karena kadar oksigen dalam darah gw sedikit, dan satu-satunya cara meningkatkannya ya dengan olahraga kardio.

Joging gw gak bisa, karena dengan berat badan gw saat itu bikin lutut gw mudah sakit. Renang gak bisa karena selama pandemic kolam renang di apartemen ditutup. Ngegym apa lagi, serem woii.

Selain itu yang paling penting bagi gw kalau gw mau olahraga ini menjadi gaya hidup yang berkelanjutan, aktifitas ini gak boleh menambah jadwal gw lagi, karena menambah jadwal berarti akan sulit untuk menjadikannya kebiasaan rutin.

Akhirnya pilihan gw jatuh pada sepeda. Dan ya, gw termasuk telat mulai bersepedanya. Gol gw sederhana, menggantikan kebiasaan gw berangkat pergi dan pulang kantor yang naik mobil jadi naik sepeda. Gw gak perlu nambahin jadwal baru, gw hanya perlu mengganti kendaraan gw. Dan yang gw suka dari bersepeda ini, berbeda dengan running atau renang yang sehabis melakukannya kita gak bisa langsung melanjutkan dengan atifitas lain, di sepeda gw bisa langsung melanjutkan aktifitas lain setelah bersepeda (menengah santai tentunya), misal langsung bekerja.

Awalnya yang cuma bersepeda rumah ke kantor dengan rute tercepat, mulai cari-cari rute yang memutar dengan kondisi jalan lebih baik dan jarak yang lebih jauh. Akhir minggu lihat progress, “masa jaraknya cuma segini aja?”, akhirnya niatin untuk bangun pagi khusus buat sepedaan aja. Gw yang percaya bahwa diri gw adalah orang malam yang gak bisa bangun pagi terpaksa harus mengakui bahwa bangun pagi itu soal kebiasaan dan bukan soal tipe orang. Alhasil sekarang gw justru ngejar tidur cepat dan cukup agar bisa bangun jam lebih awal untuk sepedaan.

Sampai akhirnya gw memutuskan untuk men-challenge diri gw untuk 100km pertama dengan sepeda lipat. Memang ketika membeli sepeda, gw sudah punya target sebelum tahun ini berakhir gw mau sepedaan 100km. Gw belum ada bayangan ke mana dan kapan, tapi karena sepeda bukan barang yang murah, jadi gw perlu menantang diri gw sampai sejauh mana gw bisa push limit gw di sepeda, khususnya sepeda lipat (seli).

Dan akhirnya November 2020 berakhir gw berhasil menyelesaikan tantangan Grand Fondo 100km di Strava dalam kurun waktu 4 jam 30 menit. Dengan Seli.
CE3AC651-6012-4B56-BF8B-D52B1CF12AB0
Why folding bike?
Keterbatasan tempat sehingga membuat opsi gw dalam memilih sepeda gak banyak. Apalagi garasi sepeda yang gw miliki adalah ada di dalam mobil. Jadi gw putuskan untuk membeli sepeda lipat. Selain itu gw pikir kalau pandemic ini sudah berlalu, alangkah menyenangkannya jika gw bisa bawa sepeda gw ketika traveling atau tugas di luar kota.
4B2D1573-D377-45BA-9883-84758E971C44
Cuma setelah gw gunakan beberapa bulan terakhir, gw tahu banyak keterbatasan dengan sepeda lipat ini. Cuma gw rasa sebelum gw beranjak ke road bike, gw perlu menyelesaikan tantangan terakhir gw menggunakan sepeda lipat ini, menuju KM 0 dengan Seli. Yeah!

Oh iya, sejak gw mulai bersepeda berat badan gw turun sekitar 10 kg, dan yang paling berasa lingkar perut gw turun secara signifikan. Namun bersepeda (olahraga) gak bikin berat badan gw turun. Sepeda membantu gw fokus untuk menjaga pola makan (diet) yang seimbang dan istirahat yang teratur. Karena ketika badan gw terlalu berat, punya sepeda yang super ringan pun percuma. Dan sekarang gw gak pernah engap lagi ketika bermain sama anak. Gw ingin bisa bermain dan hidup lebih lama lagi bersama keluarga gw.

Jadi apa cerita kamu memulai bersepeda?

Joh Juda

Read more posts by this author.

Subscribe to

Get the latest posts delivered right to your inbox.

or subscribe via RSS with Feedly!