Mengapa Tim Ogah Balik WFO?

neat-spaces-huddle-teams-resized
Banyak perusahaan yang mengeluh pasca pandemi tim ogah balik kerja dari kantor, alih-alih lebih memilih WFH/A (Work From Home/Anywhere) ketimbang WFO (Work From Office).

Beberapa menyalahkan generasi saat ini (Gen Z) yang tidak memiliki spirit dan etos kerja yang baik, sebagian menyalahkan karyawan yang malas dan tidak memiliki rasa syukur (yang ini biasanya perspektif subjektif CEO or owner).

Setiap generasi punya andil untuk generasi setelahnya, jadi generasi saat ini adalah hasil dari generasi sebelumnya. Baik-buruknya kita punya andil. Dan untuk mengubah generasi saat ini seperti melawan hukum alam. Sama seperti generasi di atas kita tidak mampu menahan dan mengubah generasi kita. Jadi yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan generasi ini, dan menemukan jalan untuk bekerja sama dan juga saling memahami.

Maka mari kita coba introspeksi ke dalam. Mungkin saja tim kita tidak ingin kembali bekerja dari kantor karena tempat kerja kita sudah tidak mendukung dan memberikan environment kerja yang layak pasca pandemi. Tempat kerja sudah tidak mengakomodir transformasi digital yang terjadi.

Kita tahu bahwa pandemi mendorong percepatan digitalisasi di negeri kita. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan penetrasi internet, yang dari 51.9% (2017-2018), menjadi hampir 80% (data di awal 2023). Ini membuka berbagai kesempatan dan peluang yang lebih besar bagi bisnis dan usaha. Namun kalau kita cek ruang kerja di kantor-kantor umumnya masih menggunakan mode 2020 BC (Before Corona). Internet tidak memadai, banyak blank spot di sudut-sudut gedung kantor, ambience lighting kantor seadanya (yang penting terang), tanpa memperdulikan apakah Zoomable atau tidak, boro-boro ngomongin akustik audio yang proper. Belum lagi estetika dan background kantor yang ehm... tidak menarik untuk dilihat, atau anak sekarang menyebutnya "gak instagramable".

Emang sepenting itu? Bukannya itu hanya alasan doang buat malas ke kantor?

Iya, dong! Kita percaya bahwa digitalisasi membawa perubahan luar biasa bagi bisnis kita namun di satu sisi kita lupa mengupgrade ekosistem dan ruang kerja kita sehingga digital-proper. Dulu gengsinya sebuah perusahaan ada pada alamat kantor (di SCBD, Sudirman, Kuningan, dsb). Lalu bergeser pada digital-presence (web yang proper, sosmed yang aktif, newsletter yang atraktif, dsb). Pasca pandemi, gengsinya perusahaan ada pada online-presence-nya (bagaimana koneksi jaringan ketika online, kualitas videocam, audio, lighting, akustik, hingga background), karena ini yang menjadi wajah perusahaan ketika meeting. Yes, 78% meeting dan business gathering terjadi secara online.

Coba kita bandingkan dengan rata-rata meja kerja/game anak-anak jaman now, bahkan di kamar kost mereka. Meja kerja mereka mungkin jauh lebih bagus dan 'mewah' ketimbang meja kerja manager di kantor Anda. Layar besar 27", mechanical key, dengan sound dan mic sekelas Shure. Belum lagi headset dari Bose.

Lalu kita mau minta mereka kembali ke kantor dengan cubicle kerja jadul?
Ayo lah, kita juga tidak ingin kembali bekerja dengan menggunakan PC dan Faxmail.

Jadi sebelum kita komplen dengan tim kita, mari kita bercermin bersama, apakah ruang kerja kita memang sudah menunjang digitalisasi yang ada dengan mengupgrade environment bekerja dari kantor yang menyenangkan?
Jika belum, silahkan berkunjung ke kluege.com dan berkonsultasi dengan mereka mengenai #ruangkerjacerdas

Joh Juda

Read more posts by this author.

Subscribe to

Get the latest posts delivered right to your inbox.

or subscribe via RSS with Feedly!