Perubahan Dan Semua Ketidaknyamanan

Screen-Shot-2024-01-27-at-23.23.22
Sering kali kita terjebak dengan terlalu banyak analogi dan metafora sehingga kita justru kehilangan maknanya atau jadi buzzword -- sekedar keren di kuping.

Saya ambil contoh, misal soal ketidaknyamanan. Premisnya: Kalau kita merasa tidak nyaman itu bagus, karena setiap perubahan pasti membuat kita tidak nyaman. Dan ini biasanya dalam konteks pekerjaan atau productivity/self-improvement. Sering kali ini dikaitkan dengan keluar dari zona nyaman (saya pernah menulis juga terkait kesalah-pahaman orang terhadap Zona Nyaman di_sini). Intinya kita dituntut untuk beradaptasi.

Padahal jika berbicara mengenai ketidaknyamanan, fatigue pun gak nyaman, dan itu bisa berujung pada fracture. Dan itu sama-sama disebabkan oleh perubahan.

Jadi kita perlu kenali terlebih dahulu perubahan mana yang membawa progress dan mana yg membawa fraction. Karena keduanya sama-sama menyebabkan tidak nyaman.

Ketidaknyamanan yang membawa progress tentunya yang menghasilkan hal positif, yang kita sendiri sebagai individu ter-challenge, dan bukan yang justru mengkerdilkan kita.
Ketidaknyamanan yang membawa progress juga tidak berlarut-larut, karena pada dasarnya tubuh kita cepat beradaptasi dengan sebuah perubahan yang baik. Malah tubuh kita cepat berkembang jika mendapatkan perubahan yang baik. Kalau ketidaknyamanan tersebut berlangsung berlarut-larut, either kitanya yang tidak baik (toxic) atau perubahan itu sendiri yg tidak cocok.

Saya ambil analoi seperti bersepeda. Awalnya bagi yang baru mencoba bersepeda tentu tidak nyaman. Mulai dari saddle-nya yang terlihat keras (gak ada empuk-empuknya), punggung yang sakit, paha yang sakit, dsb. Namun kalau kita bike fitting maka ketidaknyamanan kita akan cepat terlewati berganti rasa nyaman dan yang paling penting, kita dapat berspeda dengan tenaga yang maksimal dan aman. Sebaliknya, jika ketidaknyamanan kita berlarut-larut kemungkinan kita gak tahu posisi duduk yang tepat, ukuran sepeda kita tidak sesuai, atau bike fitting kita tidak tepat.

Begitu juga setelahnya, ketika kita ingin meningkatkan performa bersepeda kita, maka kita akan punya porsi latihan yang tidak menyenangkan awalnya, seperti latihan cedence atau interval secara rutin. Ketidaknyamanan ini hanya terjadi diawal karena begitu kita rasakan manfaatnya, serta merta kita akan menyukai perubahan tersebut. Dan cepat atau lambat kita perlu membuat improvement lain lagi untuk terus berkembang. Demikian seterusnya.

Ada satu cerita dari kawan saya. Dia baru belajar sepeda dan merasa kakinya, khususnya area lututnya tidak nyaman. Namun dia tepis perasaan tersebut dan merasa itu semua hanya karena kakinya belum terbiasa, hingga berlangsung lebih dari 3 bulan. Akhirnya dia berhenti sementara karena kakinya mengalam cedera. Belakangan baru diketahui bahwa nyeri pada lututnya terjadi hanya karena posisi suddle-nya dan ukuran sepedanya kurang tepat. Begitu dia setup sesuai dengan bentuk tubuhnya, boom! Dia menyelesaikan beberapa ultra-distance cycling baik nasional maupun internasional.

Perubahan yang menyebabkan 'rasa' sakit berkepanjangan adalah tanda pertama bahwa perubahan Anda berpotensi fracture.

Kedua, fokusnya bukan pada perubahan (hasil), apa lagi fokus pada ketidaknyamanan-nya ("kalau itu membuat kita tidak nyaman berarti bagus"), namun pada habit apa yang ingin kita bengun.

Jadi cek kembali, perubahan yang sedang Anda alami sekarang sesuatu yang Anda suka hasilnya atau justru membuat Anda semakin enggan untuk meneruskannya?
Jangan sampai Anda fracture dulu baru menyadari perubahan tersebut negatif.

Joh Juda

Read more posts by this author.

Subscribe to

Get the latest posts delivered right to your inbox.

or subscribe via RSS with Feedly!